Catatan Dari Payakumbuh

1 January, 2010

Gerhana

Filed under: fenomena alam — dalesadli @ 5:14 am
Tags: , ,

Allah SWT telah berfirman :

“Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” (Q.S. Ar Rahman : 5)

Dan firman Allah SWT dalam Al Qur’an surah Yunus ayat 5 yang artinya :

“Dialah yang telah menjadikan matahari terang cemerlang dan bulan bercahaya, dan telah Dia tentukan untuknya tempat-tempat perjalanannya, supaya kamu ketahui bilangan tahun-tahun dan hitungannya. Tidaklah Allah menjadikan yang demikian, melainkan dengan benar. Dia jelaskan tanda-tanda untuk kaum yang mau mengetahui.”

Allah menciptakan bumi berputar dari barat ke timur, yang sekali berputar terjadi siang dan malam yang masanya 24 jam. Bumi juga beredar mengelilingi matahari yang sekali peredarannya lamanya 365 hari 5 jam 48 menit 45,17 detik, disebut tahun syamsiah.

Perhitungan dalam kalender diambil bulatnya (365 hari). Dengan begitu dalam setahun akan kurang waktu 5 jam 48 menit 45,17 detik (¼ ha­ri). Tentu dalam masa 4 tahun akan kurang satu hari. Supaya ini tidak terjadi, maka tahun ke-4 dijadikan 366 hari. Yang sehari itu dimasukkan ke bulan Februari (tahun ke 4 Februari tidak 28 hari tetapi 29 hari).

Dan bulan beredar pula mengelilingi bumi, dan bersama-sama bumi keduanya beredar mengeli­lingi matahari. Dengan peredaran ini maka posisi bulan, bumi dan matahari selalu berobah menurut perobahan masanya. Terkadang-kadang letak bulan, bumi dan matahari pada satu garis lurus yang menyebabkan tertutup cahaya matahari. Inilah yang menyebabkan terjadi gerhana.

Ada 2 macam gerhana, yaitu: gerhana mataha­ri (kusuf) dan gerhana bulan (khusuf).

I. GERHANA MATAHARI

Gerhana matahari (kusuf) terjadi kalau bulan berada antara bumi dan matahari  pada satu garis lurus. Letak yang seperti ini menyebabkari cahaya matahari ke bumi tertutup oleh bulan (sebahagiannya atau seluruhnya). Gerhana matahari ini ada tiga macam:

  1. Gerhana sebahagian (juz’ii), hanya sebahagian matahari yang tertutup oleh bulan.
  2. Gerhana gelang (halaqi), matahari kelihatan di sekeliling bulan.
  3. Gerhana penuh (kully), kalau seluruh matahari tertutup oleh bulan, menyebabkan terjadi gelap (hari kelam), yang lamanya 5 menit atau 6 menit.

Keterangan:

  • Gerhana bahagian adalah yang paling banyak terjadi dari yang lain. Gerhana ini terjadi juga sebelum dan sesudah gerhana gelang atau gerhana penuh.
  • Gerhana gelang terjadi di waktu bulan berada di tengah-tengah matahari (ini juga beberapa menit saja). Sebab terjadi gerhana gelang ini waktu letak bulan jauh dari bumi. Sejauh-jauh bulan dari bumi 405.530 km.
  • Gerhana penuh terjadi diwaktu seluruh matahari tertutup oleh bulan yang juga dalam waktu beberapa menit. Tertutup seluruh matahari itu karena bulan dekat ke bumi. Sedekat-dekat bulan ke bumi 353.310 km. Sebenarnya bulan itu kecil dari bumi, sedang matahari  jauh lebih besar dari bumi. Tertutup matahari oleh bulan disebabkan letak matahari sangat jauh dari  bulan. Gerhana matahari itu adalah ijtima’, tetapi tidak tiap-tiap ijtima’ terjadi gerhana matahari, karena tidak terletak pada garis lurus.

Gerhana matahari kalau terjadi ialah di hari akhir bulan Hijriy, yaitu tanggal 29 atau 30. Dan besoknya adalah awal bulan baru.

II. GERHANA BULAN

Gerhana bulan (khusuf) terjadi kalau bumi yang berada antara bulan dan matahari pada satu garis lurus. Menurut letak seperti ini, cahaya matahari ke bulan tertutup oleh punggung bumi, menyebabkan bulan tidak penuh. Biasanya seluruh cahaya yang diterima bulan dari matahari dipantulkannya ke bumi, karena bumi tidak terletak pada garis lurus antara matahari dan bulan.

Gerhana bulan ini terjadi di pertengahan bu­lan Hijriy, yaitu pada tanggal 14 atau 15 atau 16 bulan Hijriy.

III. GERHANA MENURUT SYARI’AH

Kalau terjadi gerhana disyari’atkan bermacam-macam ibadah seperti: berdo’a, takbir, ber-sedekah dan shalat gerhana/khutbah.

“Dari Mughirah bin Syu’bah: ia berkata: ‘telah terjadi gerhana matahari pada hari wafat Ibrahim putera Nabi saw. Kata orang banyak: terjadi gerhana karena Ibrahim wafat’. Maka lantas dijawab oleh Rasulullah saw.: ‘Bahwasanya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Tidak terjadi gerhana karena wa­fat atau lahirnya seseorang. Maka apabila kamu melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah sehingga habis gerhana.’”

Dan pada hadits lain Rasulullah saw. bersabda:

“Maka apabila kamu melihat yang demikian, pohonkanlah do’a kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah serta bersedekah lah. Demi Allah, jikalau kamu ketahui apa yang aku ketahui, sesungguhnya sedikit kamu tertawa dan banyak kamu menangis.”

IV. SHALAT GERHANA

Shalat gerhana (matahari atau bulan) dapat dikerjakan sendirian sekiranya tidak ada kawan. Sebaiknya dikerjakan berjama’ah. Kalau hanya seorang disirkan, dan kalau berjama’ah dijaharkan.

Sesudah shalat jama’ah disyariatkan pula berkhutbah.

Adapun cara shalat gerhana menurut yang lebih kuat:

Dikerjakan 2 raka’at dengan 4 ruku’ dan 4 sujud.

Pada raka’at pertama (seperti shalat biasa) sesudah Al-Fatihah dan ayat-ayat, kita ruku’ dan sesudah i’tidal kita kembali membaca Al-Fa­tihah dan ayat-ayat. Dan sesudah ruku’ kedua dan i’tidal, baru kita sujud 2 (dua) kali seperti biasa.

Pada raka’at kedua kita kerjakan sebagaimana pada raka’at pertama tadi, dan baru kita tasya-hud dan salam.

Sesudah shalat baru berkhutbah.

12 July, 2009

Maklumat No. 2: Penyerahan Kota Payakumbuh dari NICA kepada Republik Indonesia

Filed under: Uncategorized — dalesadli @ 5:03 am
Tags: , , ,

maklumat

16 November, 2008

Pidato Wakil Presiden Hatta ditjorong Radio Republik Indonesia Bukit Tinggi

Filed under: pidato indonesia — dalesadli @ 2:50 am
Tags: , ,

Pendengar jang terhormat,

Merdeka,

Beresok mulai tahun baru, tahun 1948. Apa artinja tahun baru. Sebenarnja tak lain dari perhitungan waktu sadja jang telah lazim telah dipakai dalam dunia internasional. Perhitungan waktu, untuk mengukur perdjalanan masa, jang didasarkan kepada peredaran matahari.

Hari besar sebenarnja besok tidak. Hari besar kita jang beriwajat ialah tanggal 17 Agustus, hari kemerdekaan kita. Hari besar agamapun tidak, karena Hari Besar jang diperingati oleh berbagai golongan agama tidak ada  persangkutannja dengan 1 Djanuari. Tetapi dunia internasional sudah membiasakan memperingati ulangan tahun kalender, jang artinja, seperti jang saja katakan tadi, tak lain daripada perhitungan waktu, permulaan bilangan masa menurut ukuran edaran matahari, atau lebih benar, menurut ukuran edaran bumi sekeliling matahari.

Manusia jang bekerdja perlu sewaktu-waktu mengadakan perhitungan tentang apa jang telah diperbuatnja berhubung dengan tudjuan hidupnja.

Perlu pula membuat rentjana apa jang mesti dikerdjakan untuk masa datang, dengan berangsur-angsur. Masa datang seluruhnja tidak tertindjau oleh otak manusia jang terbatas kekuatannja. Sebab itu diadakan rentjana dari tahun ketahun, ada djuga meliputi masa 5 tahun, 10 th.

Orang dagang membiasakan membuat balans pada penghabisan tahun, untuk mengetahui rugi-laba dalam ta-hun jang lalu serta keadaan harta-benda dan utang piutang pada saat itu. Semuanja itu sebagai dasar untuk me-mulai usaha baru dalam tahun jang akan datang. Negara djuga, umumnja, membiasakan membuat rantjangan begai negara tidak selamanja sama dengan tahun kelender. Djuga perdjuangan politik sering ditindjau dari tahun ke tahun untuk mengetahui madju mundurnja. Semuanja itu akibat dari pada sifat manusia jang rasionil. Sewaktu-waktu diperbuat perhitungan tentang apa jang telah dikerdjakan dan membuat rentjana tentang apa jang hendak diusahakan. Manusia jang menuju kemadjuan harus bekerdja dengan pedoman “mentjapai jang sebaik2nja”.

Pada ulangan tahun kelender ini inginlah saja menindjau dengan sepatah kata keadaan negara kita, dalam perdjuangan mempertahankan kemerdekaan, dan keadaan tenaga dan organisasi rakjat dalam menjempurnakan tjita2 kita.

Dalam perdjuangan kita untuk menegakkan Negara Republik Indonesia tidak begitu lantjar, tetapi itu adalah si-fat dari pada tiap2 perdjuangan. Perdjuangan menghendaki korban, penderitaan dan kesabaran serta kejakinan akan kemenangan tjita2. Kita harus bersedia berdjuang untuk waktu jang lama sekali. Dan kita harus mendjaga supaja dasar perdjuangan kita tetap sutji, sebab kesutjian tjita2 itulah jang mendjadi kekuatan kita.

Tahun jang lalu ini menjatakan kepada kita, bahwa kemerdekaan kita bergantung kepada dua hal. Pertama kekuatan tenaga kita sendiri, dan kedua, simpati dunia internasional terhadap kita.

Simpati dunia internasional dimasa sekarang hanja sedikit bergantung kepada tjita2 besar seperti “hak tiap2 bangsa untuk menentukan nasibnja sendiri”. Tjita2 besar itu biasanja lahir dalam waktu penderitaan jang mahahebat, seperti perang dunia pertama dan kedua, waktu demokrasi Barat terantjam oleh desakan militairisme dan fascis

me atau nazi. Tetapi, semangkin djauh masa perang itu kebelakang, semangkin kabur tjita2, semangkin besar tuntutan kepentingan sendiri2 dan perhitungan sendiri2 dan perhitungan jang didasarkan kepada pertentangan jang reeel. Itulah sebabnya maka UNO, suatu organisasi bangsa2 jang begitu besar, tidak mampu mengambil tindakan jang selajaknja dalam persengketaan kita dengan Belanda. Ceasefire diperintahkannja, tetapi Belanda leluasa sadja meneruskan tindakan militernja. Mengembangkan demokrasi dianjur2kannya, tetapi tindakan fascis jang dilakukan Belanda, dengan mendirikan pemerintah2 boneka sampai kedalam daerah de facto Republik Indonesia jang didudukinja, dibiarkan sadja oleh UNO.

Negeri2 besar demokrasi menjangka, bahwa mereka telah menghantjurkan nazi dalam perang dunia kedua ini, tetapi pokok2 dari pada fascisme itu mereka biarkan hidup kembali, jaitu pemerintah djadjahan. Belanda jang meringkuk lima tahun lamanja dibawah telapak kaki nazi Djerman, banjak mengetahui dari pada sistem nazi itu dan sekarang dipakainja terhadap daerah2 Indonesia jang didudukinja. Negara2 quasi-merdeka didirikan dengan suatu pemerintah boneka, jang hanja boleh melagukan lagu “his master voice”. Keganasan jang dilakukan oleh tentera Belanda didaerah2 jang didudukinja malahan melebihi lagi keganasan jg. Dilakukan Djepang dahulu di Indonesia selama masa pendudukannja. Pers Belanda sendiripun terperandjat melihat bukti2 jang njata itu.

Alasan jang dikemukakan oleh Belanda untuk menduduki Madura, jang katanja diminta oleh rakjat disana jang kekurangan makanan dan pakaian, adalah sama sekali metode fascis jang dilakukan dahulu oleh nazi-Djerman untuk menduduki Ustria. Kita tahu, bahwa Komisi Tiga Negara sendiri telah menjatakan kepalsuan alasan Belanda itu, setelahnja mereka sendiri menindjau ke Madura dan mendengar suara rakjat. Tetapi sikap apa jang diambil oleh UNO? Ada pula bajangan sekarang bahwa Belanda menjiapkan tenteranja, untuk menjerbu ke Djokja, apabila tuntutan2 mereka jang diluar dari segala kebenaran itu, tidak disetudjui. Apakah ini bedanja dengan perbuatan Hitler dahulu untuk mentjaplok Tjecho Slowakia ditahun 1939, sesudahnja diadakan perdjandjian Munchen jang mendjamin kemerdekaan negeri itu?

Dr. Van Mook mengadakan “dreamline”nja, garis impiannja jang tidak berdasar realitiet dan bertentangan pula dengan putusan Dewan Keamanan UNO. Kalau maksudnja itu tidak makbul, tentera Spoor bersedia menjerbu ke Jogja, katanja untuk menundukkan Republik jang “enkar”. Dalam pada itu Belanda telah berniat untuk mendirikan Negara Indonesia Serikat atas kuasanja sendiri jang menurut perdjandjian Linggardjati adalah usaha bersama antara pemerintah Nederland dengan pemerintah Republik Indonesia. Belanda selalu mengatakan akan mendjalankan perdjandjian Linggardjati, tetapi perbuatannja adalah bertentangan dengan huruf dan semangat perdjandjian Linggardjati itu. Trufnja jang penghabisan ialah, kalau Republik tidak mau tunduk, tenteranja akan dikerahkan serentak menduduki Jogja. Persis sistem dan perbuatan Nazi.

Tetapi kalau tentera Belanda sampai menduduki Jogja, maka akan bermulalah perang rakjat seluruh rakjat Indonesia – jang tidak berkeputusan terhadap Belanda sampai rubuhnya imperialis Belanda di Indonesia ini. Rakjat Indonesia sanggup berjuang berapa djuga lamanja untuk mempertahankan kemerdekaannja. Tentera Belanda jang beralat modern itu dapat menduduki kota2 dan melalui djalan2 besar, tetapi tanah Indonesia jang seluas itu tak akan terduduki olehnja. Dan setiap djengkal tanah Indonesia jang merdeka, lembah, hutan atau pegunungan, akan mendjadi pusat untuk perang gerilla bagi rakjat Indonesia jang lebih suka mati berkalang tanah dari pada hidup bertjermin bangkai. Dan setiap waktu Belanda tidak akan merasa aman lagi, dimana djuga ia berada. Pasukan gerilla Indonesia, dalam formasi atau sebagai orang seorang, akan tetap senantiasa mengganggu keamanannja.

Semuanja ini hendaklah dipikirkan oleh rakjat Belanda, sebelum pemerintahannja sempat mengadakan bentjana jang merugikan seluruh dunia, rugi dalam materieel dan tjita2. Rakjat Indonesia tidak bentji kepada rakjat Belanda, tetapi ia tjinta kepada kemerdekaannja. Bagaimanapun djuga dan apapun djuga jang terdjadi. Republik Indonesia terhadap rakjat Belanda tetap berpegang kepada manifest politiknja tanggal 1 November 1945, jang mendjadi dasar perhubungan baginja dengan bangsa2 didunia.

Perdjuangan Negara Republik Indonesia adalah perdjuangan keadilan, dan suatu waktu ia akan menang. Oleh karena itu rakjat Indonesia tidak akan djemu berdjuang, sampai tertjapai kemerdekaan tjita2nja.

Semuanja ini harus dipikirkan djuga oleh dunia internasional. Dunia akan rugi, ideeel dan materieel, apabila perang terus menerus terdjadi di Indonesia. Rugi ideeel, karena dengan itu dunia internasional menguburkan tjita2nja akan mendirikan dunia baru diatas keadilan, keamanan dan kemakmuran.

Rugi materieel, karena daerah Indonesia jang begitu kaja, berhenti menghasilkan bagi dunia. Sampai sekarang sadja telah ternjata, bahwa sejak aksi militer Belanda bermula, produksi mendjadi kurang. Belanda menduduki daerah2 jang terkenal sebagai lumbung padi, tetapi rakjat disana kekurangan makanan. Dan karena itu Belanda merasa terpaksa lagi untuk menduduki daerah baru untuk mendapat sumber bahan makanan. Tetapi semangkin banjak daerah jang subur didudukinja, semangkin kurang produksi, semangkin banjak penderitaan rakjat. Kebalikan dari pada dahulu, jang Republik sanggup menawarkan kelebihan bahan makanannja keluar negeri, sekarang telah terbajang bahwa Indonesia terpaksa meminta bantuan bahan makanan dari luar. Dalam pada itu, produksi barang lainnja tidak dapat berjalan dengan selamat.

Inilah akibatnja dari pada tindakan militer Belanda, jang harus dipertimbangkan benar2 oleh dunia internasional. Tidak menambah produktiviteit, melainkan mengurangkan produksi dan memusnahkan produktiviteit. Sebenarnja sama dengan akibat perang dimana2. Tetapi dapatkah ini dibiarkan dalam waktu jg disebut masa damai?

Tadi kukatakan, bahwa kemerdekaan kita bergantung sebagian kepada simpati dunia internasional kepada kita, sedangkan simpati itu tak dapat diharapkan akan berdasarkan tjita2 besar. Memang banjak negara jang ingin mereka itu berdasarkan kepada kejakinan bahwa – negeri jang merdeka lebih besar kemampuannja untuk menghasilkan bagi dunia dari pada negeri jang terdjadjah, Dalam beberapa hal negeri djadjahan mengadakan konkurensi, persaingan, jang tidak adil dalam perniagaan internasional, karena ditanah djadjahan upah buruh ditindis serendah2nja untuk memurahkan ongkos produksi. Akibat dari pada itu pula ialah bahwa tenaga pembeli rakjat djadjahan sangat sedikit, sehingga dunia internasional kehilangan pasar. Maupun dipandang dari sudut produksi maupun dari sudut konsumsi, kemerdekaan Indonesia, ne­geri jang begitu kaja hasilnja dan banjak penduduknja/ menguntungkan bagi dunia internasional ; Disinilah terutama letaknja simpasi dunia atas kemerdekaan kita. Simpasi dunia sebagian besar berdasar kepada ukuran jg objektief.

Apabila kita rakjat Indonesia dapat membuktikan bahwa kita sanggup menjamin produksi jang lantjar djalannja dan sanggup mengadakan pemerintahan jang teratur – a stable government – jang sanggup menegakkan hukum dan mendjaga keamanan hidup dan berusaha, – simpati dunia luaran itu akan bertambah kuat.

Itulah sebabnja, maka berkali2 kuutjapkan supaja rakjat kita tahu berdisiplin dan patuh kepada pemerintah. Dalam masa revolusi dan pergolakan sering2 rakjat jang patuh sekalipun keluar dari baris. Tetapi senantiasa mesti ada tindakan untuk memperbaiki diri sendiri, untuk mengadakan zelfcorrectie. Apalagi dalam perdjuangan kita seterusnja, untuk mempertahankan kemerdekaan itu, perlu ada disiplin, perlu ada persatuan jang erat dibawah pimpinan pemerintah, perlu ada perdjuangan dan usaha melihat kita mendjadi negara merdeka, tetapi keinginan jang teratur. Pendek kata organisasi negara dari masjarakat mestilah baik. Karena organisasi adalah pangkal dari pada kekuatan.

Tadi kukatakan, bahwa kemerdekaan kita selain dari bergantung kepada simpati dunia internasional, terutama bergantung kepada tenaga kita sendiri. Kekuatan tenaga sendiri itu bergantung sebagian pada kejakinan atas tjita2 kita dan sebagian atas organisasi negara dan masjarakat.

Bahwa kejakinan harus kuat, bahwa harus sanggup berkorban dan menderita, itu tak perlu dipaparkan lagi. Telah setiap hari dikobar2kan, dah setiap hari dibuktikan pula oleh pemuda jang berdjuang dan rakjat jang menderita.

Jang perlu ditindjau lebih dalam ialah keinsjafan tentang organisasi, karena organisasi adalah pangkal dari pada kekuatan. Kalau diperhatikan sedjak dari mulai Republik kita berdiri, organisasi kita, maupun negara atau masjarakat, ternjata bertambah baik. Pengalaman jang diperoleh menambah ketjerdasan dan ketjakapan bekerdja. Tetapi kemadjuan jang diperoleh sampai sekarang dalam organisasi negara dan masjarakat belum lagi sepesat jang kutjiptakan.

Sungguhpun begitu aku jakin, bahwa kemauan djiwa dan kekerasan hati untuk mengatasi segala kesukaran akan membawa kita lebih dekat kepada kesempurnaan.

Dalam menghadapi tahun jang akan datang ini, marilah kita perdalam keinsjafan dalam djiwa kita, bahwa kita harus menjempurnakan organisasi negara dan masjarakat dengan selekas2nja. Tudjuan ini akan lekas berhasil, apabila tiap2 warga-negara memenuhi kewadjibannja dengan bersungguh2. Pegawai negeri bekerdja dengan menumpahkan segala isi djiwanja, peradjurit berdjuang dengah tekad jang tak kundjung patah, dan warganegara lainnja memberikan bantuannja dengan sepenuh2 hati sampai kebatas kesanggupannja jang penghabisan. Negara kita adalah negara jang masih dalam perdjuangan, dan marilah kita tumpahkan segala minat kita kepada perdjuangan, perdjuangan jang akan menentukan mati hidup kita sebagai bangsa.

Tetapi organisasi negara, kita harus mentjapai pemerintahan jang lebih efektief. Pengalaman dimasa jang lalu didjadikan petundjuk untuk mengadakan perobahan dan perbaikan. Pemerintahan demokrasi djanganlah hendaknja djadi pemerintahan jang banjak memakan ongkos. Karena djika administrasi pemerintahan terlalu banjak memakan biaja negara, maka kuranglah belandja jang dapat dipergunakan untuk memadjukan pengadjaran, keselamatan dan kemakmuran rakjat. Demokrasi bermaksud supaja urusan mengatur hidup sendiri sebanjak2nja diserahkan kepada rakjat sendiri, dan bukan dikerdjakan oleh pegawai negeri. Semangkin rendah tingkat pemerintahan, semangkin sedikit ia harus memakai ongkos dan mempergunakan pegawai. Pemerintahan desa atau negeri atau warga seharusnja sedikit sekali memakai biaja, karena ia boleh dikatakan pemerihtahan dari pada rakjat sendiri dengan tiada memakai pegawai ketjuali dua tiga. Pembajaran wang duduk pada anggota dewan perwakilannja tak perlu diadakan, karena anggota itu tidak bersidang sepandjang waktu, hanja beberapa kali sadja sebulan. Lingkungan desa pun tak luas, sehingga perdjalanan anggota kesidang tidak perlu dengan kenderaan jang dibajar.

Tentang organisasi masjarakat, disini besar tanggung djawab partai2. Partai2 hendaklah memberi djiwa kepada rakjat, menuntun rakjat dalam perdjuangan kita menentang agressie Belanda. Betapa djuga besarnja perbedaan paham dan ideologi antara partai jang satu dengan jang lain, lebih banjak dan lebih besar lagi persamaan maksud dan tudjuan antara segala partai itu, jang semuanja itu boleh dan musti mendjadi ikatan persatuan dalam membela tjita2 negara. Kerdjasama antara partai2 akan memperkuat organisasi masjarakat. Djuga partai2 itu sendiri harus mengadakan perbaikan didalamnja, supaja ia berupa suatu badan jang hidup dan tumbuh.

Dimasa jang baru lalu ini ada partai atau perkumpulan jang meminta biaja kepada Pemerintah. Inilah ada suatu dasar jang salah, jang bertentangan dengah tjita2 demokrasi. Sebab, djika Pemerintah harus membiaja partai2 maka lebih baik pemerintah sendiri mengadakan suatu Partai Negara, jang satu itu sadja dalam masjarakat, dengan Partai Negara itu kita menjimpang dari garis demokrasi.

Partai mesti hidup dari ijuran anggotanja, dan ijuran itu pulalah jang mendjadi tali ikatan semangat antara partai dan anggota.

Mudah2an dalam tahun 1948 ini kita sanggup menjempurnakan organisasi negara dan maajarakat kita, – se­hingga seluruh Republik mendjadi suatu kesatuan organisasi jang berdjuang, dengan api semangat jang tak kunjung pada.

Marilah saja kuntji pidato ini dengah sembojan kita, jang tetap mendjadi pedoman perdjuangan kita “Sekali merdeka, tetap merdeka”

2 November, 2008

Pidato Presiden Soekarno tgl. 1 Djanuari 1948 ditjorong Radio Republik Indonesia Djokjakarta.

Filed under: Uncategorized — dalesadli @ 8:47 pm
Tags:

Saudara2 sekalian diseluruh Indonesia.

Dan semua pendengar jg mendengar pedato saja ini.

Pada hari ini masuklah Republik Indonesia dalam tahun kalender ke 4-nja.

Saja mengutjapkan banjak2 terima kasih kepada semua fihak jang telah rnenjampaikan utjapan selamat kepada Republik Indonesia dan kepada persoon saja sendiri sebagai Presiden dan saja mendo’a pula kepada Allah Subhanahu Wataala, agar saudara2 dan mereka itu dalam tahun 1948 dan selandjutnja senantiasa dalam pemeliharaan Tuhan sebaik-baiknja. Tahun 1947 sudah dibelakang kita. Alangkah beratnja tahun 1947 itu, bagi Republik dan bagi banjak orang didalam Republik.

Didalam tahun 1947 itu petjahlah peperangan jang dihantarkan kepada tubuh Republik, peperangan jang dalam sifatnja, bukah aksi polisionil, (djuga menurut fihak luar negeri), tetapi adalah suatu peperangan kolonial. Dalam tahum 1947 itu bertambahlah penderitaan Rakjat kita sebagai akibat peperangan itu, banjak manusia jang mati, perempuan djadi djanda, anak2 djadi jatim piatu ; rumah2 musnah terbakar; banjak orang jang tadinja dalam keamanan dan kebahagiaan, sekarang hidup dalam pengungsian, karena tetap tjinta kepada kemerdekaan.

Kepada semua orang2 ini saja sampaikan salam hormat saja.

Assalamu’alaikum, saudara2ku.

Moga2 Tuhan senantiasa serta dengan saudara2, moga2 tidak akan tersia2 pengorbanan saudara2 oleh Tuhan.

Apakah bedanja aksi polisioneel Belanda itu pada hakekatnja dengan peperangan Atjeh, Bali, Lombok; Bone dan lain2.

Pada hakekatnja tidak ada, dan malahan sebagai peperangan kolonial terdulu itu, kita dalam peperangan sekarang inipun melihat, bahwa orang2 Indonesia-lah jang dipakai untuk memerangi bangsa Indonesia.

Tetapi dalam alamnja adalah perbedaan jang besar sekali antara peperangan kolonial dulu itu dengan peperangan kolonial sekarang.

Peperangan di Atjeh, Bone, Bali, Lombok dll daerah itu ; dilakukan atas rakjat jg belum ada kesedaran nasional, atas rakjat jang sudah barang tentu biarpun begitu, tidak suka didjadjah; tetapi peperangan kolonial sekarang adalah peperangan atas rakjat jang sudah ada kesedaran nasionalnja. Djiwa natie, djiwa bangsa jg bersemajam dalam kalbunja; jiwa kemerdekaan berkobar2 dalam tubuhnja. Rakjat Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannja dan telah mengetjap kebahagiaan kemerdekaan 2 tahun, dan tetap mau mengetjap kemerdekaan itu seterusnja.

Alam internasionalpun lain dari pada jang dulu. Dulu politik rakjat bukan politik dunia, ekonominja bukan ekonomi dunia.

Dulu Atjeh dapat ditundukkan, Bone dapat dihantjurkan, Bali, Lombok dapat dikalahkan dan dunia tidak mau tahu menahu dengan ini, tetapi sekarang dunia tahun 1947 bukan dunia tahun 1900, dan malahan bukan dunia 10 tahun jang lalu. Dunia tahun 1947 adalah dunia jang menerangi dan mengalami perang dunia ke II jang baru berachir; semenjak itu kebahagiaan, faham demokrasi, keadilan dan kemanusiaan didengung2kan. Sembojan2 itu tidak dilupakan.

Karena alam jang berlain antara dunia dulu dan sekarang itulah maka perang kolonial terhambat djalannja.

Segenap rakjat Republik, 60 djuta itu, laki2 perempuan; tua muda; telah bersatu dalam “peoples’s defence”. Anasir2 progressief sedunia telah memprotes perang kolonial.

Dewan Keamanan tjampur tangan. Kini Panitia Komisi Tiga Negara berada di Indonesia untuk mentjari penjelesaian Indonesia dan Belanda.

Sedari semula kita sambut Panitia itu dengan gembira, sebagai duta Peri Kemanusiaan.

Segala usul2 Panitia Komisi 3 Negara, jang menudju penjelesaian pertikaian pada pokoknja kita terima. Segala penjelidikannja kita permudah, sebab kita bangsa Indonesia, memang tjinta damai; kita hanja mengangkat sendjata kalau kita diserang.

Tjoba buka buku sedjarah Indonesia, bahkan sedjarah Asia, Mataram I, Madjapahit; Mataram II, tuan akan lihat bahwa kita tidak pernah menjerang, djika kita tidak diserang dulu. Semua peperangan kita bersifat defensief dan diatas tanah air kita sendiri.

Selama air sungai masih mengalir kelaut,
Selamat air laut masih asin,
Kita tetap tjinta akan damai
.

Sedari semua kita menerangkan, bahwa soal Indonesia dan Belanda bukan satu soal dalam negeri, bukan soal Indonesia sadja, atau soal Belanda sadja, tetapi adalah soal dunia, soal internasional.

Panitia Komisi 3 Negara diutus kemari.

Kita wadjib menerimanja dengan baik, sajang Pan­itia itu tidak diberi kekuasaan arbitor.

Alangkah djahatnja orang2 jang hendak membinasakan Republik, mengatakan kita kaum isolasionist, kita bukan isolasionist, tetapi kita di-isoleerkan.

Nasionalisme kita sedar, bahwa ia hidup dalam suatu “historisch paradox”. Nasionalisme kita mentjoba menghantjurkan ekonomi kolonial, tetapi bukan hendak menggantinja dengan ekonomi nasional. Kita dengan “bewust” mentjari hubungan dengan dunia. Inilah sebab maka kita menolak usul untuk menganggap urusan Indonesia sebagai soal dalam pagar, sebagai soal dalam negeri.

Indonesia mengerti, bahwa dia tidak akan subur dengan menjandarkan diri kepada susunan nasionalisme sadja, ia mengerti; bahwa ia mesti bersandar kepada internasional.

Oleh sebab itu, saja minta kepada dunia, supaja tetap memperhatikan soal Indonesia, tetap membantu kami, bantulah tetap; supaja segala soal Indonesia dan Belanda diselesaikan dan kemerdekaan Indonesia dipelihara, karena hanja dalam kemerdekaan, kita dapat menjumbangkan kekajaan Indonesia dengan sebaik2nja kepada dunja. Indonesia ingin turut membangun dunia baru. Sungguh kita tjinta damai, kita jakin bahwa semua pende-ngarpun tjinta damai, tetapi jakinlah, bahwa tidak mungkin ada perdamaian lama, apalagi jang kekal; kalau tidak semua rakjat didunia merdeka, tidak mungkin perdamaian lama, kalau dunia separoh merdeka separoh lagi budak, seperti kata Lincoln. Tidak mungkin perdamaian lama, kalan sebagian dunia mewah hidupnja, jang sebagian lagi hidup dalam kepapaan.

Kita bangsa Indonesia menerima baik duta2 Komisi 3 Negara, bersedia dijakini oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa itu, sebaliknja semua orang mesti mengerti; bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa pun tegak dimuka sedjarahnja. Apakah Perserikatan Bangsa-Bangsa benar2 menghendaki kemerdekaan untuk seluruh Bangsa-Bangsa, besar atau ketjil?

Sudah sampai kita kepada tijd-nja untuk mendjawab: “Bolehkah bangsa satu, mendjadjah jang lain, kalu jang lain itu tidak setudju?”

Saudara2 bangsa Indonesia, dari daerah Republik atau bukan dari daerah Republik, dimana sadja saudara berada.

Tahun 1947 sudah dibelakang kita, tahun 1948 mengadjak kita berdjalan terus. Karena sedjarah berjalan terus.

Saja tidak mengetahui apakah tahun 1948 ini akan berat atau tidak, memang hanja Tuhan sadja jang dapat mengetahui jang belum terdjadi. Permohonan kita kepada Tuhan agar dapatlah terlaksanakan penjelesaian soal Indonesia Belanda dengan damai.

Tetapi ada sjarat2 mutlak jang tidak terikat kepada tahun 1947, tahun 1948, tahun 1949 atau 1950 jang harus kita penuhi, agar dapat kita tjapai kemerdekaan jang sesentosanja. Sjarat2 ini mengenai diri kita sendiri, lahir dan bathin.

Penuhilah sjarat2 ini, Insja Allah, kemenangan pasti akan dapat.

Lahir dan bathin kita semua kuat, sudahkah bathin kita semua sehat ?

Masihkah kita tertarik kepada materieel dari pendjadjahan ?

Beberapa orang bangsa kita sendiri menentang Republik, mereka dengan terang2an mengatakan perbuatan mereka contra revolusi. Memang perbuatan kita revolusi, dan jang menentang kita contra-revolusionair.

Revolution rejects yesterday, dan siapa jang hendak mengembalikan zaman kemaren itu, ialah contra-revolusionair.

Saudara2 sedjumlah 70 miljun.

Marilah kita perkuat bathin kita dan marilah kita bermohon kepada Tuhan supaja bathin kita djangan lemas.

Sudahkah bathin kita bersatu? Djanganlah kita termasuk kedalam perangkap “Divide et Impera”.

Kita adalah satu. Tjita2 kita adalah satu.

Ekonomi kita ada jang buruk, ada jang baik, ada jang sedang.

Ethnologie kita ada jang Sunda, ada jang Djawa, ada jang Makassar dan lain2.

Religie kita ada jang Islam, ada jang Kristen.

Tetapi “Djagalah, politik kita adalah satu.” Bahgsa Indonesia mempunjai tjita2 satu, djangan kita bertjerai berai karena soal unitaristis.

Bangsa Indonesia boleh mempunjai daerah otonomie, tetapi kita tetap bersatu, peraturan2 tentang otonomie sudah lama ada, dan sedikit hari lagi akan diumumkan. Memang otonomie disetudjui, karena negara Indonesia adalah negara demokrasi, negara kedaulatan rakjat.

Djasmani kita boleh terpisah karena garis2 demarkasi, karena lautan, tetapi bathin kita semakin dahaga ke­pada persatuan.

Perdjuangan saudara2 didaerah pendudukan, didaerah seberang, adalah perdjuangan kita djuga dan tanggung djawab kita semua.

Demikian pesan2 saja mengenai bathin.

Djuga mengenai lahir saja berpesan : Sempurnakanlah organisasi negara, pertahanan, ekonomi, pendidikan, kepolisian; administrasi dan lain2.

Marilah kita dinamis, marilah kita giat, marilah kita mandi keringat, marilah kita kerta. Karena bangsa jang tidak begitu, akan tenggelam. Ingatlah, Modjopahit tenggelam, karena kehilangan Kertanja.

Tahun 1947 sudah lampau, dan tahun 1948 kita masuki. Soal2 1001 matjam minta dipetjahkan, kadang2 kita bingung, tetapi djanganlah menanja: “Inikah kemerdekaan? Tidakkah kemerdekaan menjelesaikan soal?

Orang2 jang menanja seperti ini, adalah orang jang putus asa.

KEMERDEKAAN BUKAN MENJELESAIKAN SOAL, TETAPI MENIMBULKAN SOAL2.

Demikianlah utjapan saja pada tahun baru ini, pada semua bangsa diluar pagar, dan djuga kepada bangsa Belanda, saja harap dalam tahun 1948 akan dapat berdjabatan tangan.

Kepada bangsa Asing saja menjampaikan salam, bekerdja samalah dengan bangsa Indonesia dalam suasana jang sebaik2nja.

Marilah kita memasuki tahun 1948 ini dengan bermohon kepada Tuhan Subhanahu Wataala:

HIDUPLAH REPUBLIK INDONESIA,
HIDUPLAH DEMOKRASI,
HIDUPLAH PERSATUAN BANGSA-BANGSA,
HIDUPLAH PERSAUDARAAN DUNIA.
MERDEKA, SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA

(Penulisan sesuai dengan tata penulisan ejaan bahasa Indonesia waktu itu)

Blog at WordPress.com.