Pidato Wakil Presiden Hatta ditjorong Radio Republik Indonesia Bukit Tinggi


Pendengar jang terhormat,

Merdeka,

Beresok mulai tahun baru, tahun 1948. Apa artinja tahun baru. Sebenarnja tak lain dari perhitungan waktu sadja jang telah lazim telah dipakai dalam dunia internasional. Perhitungan waktu, untuk mengukur perdjalanan masa, jang didasarkan kepada peredaran matahari.

Hari besar sebenarnja besok tidak. Hari besar kita jang beriwajat ialah tanggal 17 Agustus, hari kemerdekaan kita. Hari besar agamapun tidak, karena Hari Besar jang diperingati oleh berbagai golongan agama tidak ada  persangkutannja dengan 1 Djanuari. Tetapi dunia internasional sudah membiasakan memperingati ulangan tahun kalender, jang artinja, seperti jang saja katakan tadi, tak lain daripada perhitungan waktu, permulaan bilangan masa menurut ukuran edaran matahari, atau lebih benar, menurut ukuran edaran bumi sekeliling matahari.

Manusia jang bekerdja perlu sewaktu-waktu mengadakan perhitungan tentang apa jang telah diperbuatnja berhubung dengan tudjuan hidupnja.

Perlu pula membuat rentjana apa jang mesti dikerdjakan untuk masa datang, dengan berangsur-angsur. Masa datang seluruhnja tidak tertindjau oleh otak manusia jang terbatas kekuatannja. Sebab itu diadakan rentjana dari tahun ketahun, ada djuga meliputi masa 5 tahun, 10 th.

Orang dagang membiasakan membuat balans pada penghabisan tahun, untuk mengetahui rugi-laba dalam ta-hun jang lalu serta keadaan harta-benda dan utang piutang pada saat itu. Semuanja itu sebagai dasar untuk me-mulai usaha baru dalam tahun jang akan datang. Negara djuga, umumnja, membiasakan membuat rantjangan begai negara tidak selamanja sama dengan tahun kelender. Djuga perdjuangan politik sering ditindjau dari tahun ke tahun untuk mengetahui madju mundurnja. Semuanja itu akibat dari pada sifat manusia jang rasionil. Sewaktu-waktu diperbuat perhitungan tentang apa jang telah dikerdjakan dan membuat rentjana tentang apa jang hendak diusahakan. Manusia jang menuju kemadjuan harus bekerdja dengan pedoman “mentjapai jang sebaik2nja”.

Pada ulangan tahun kelender ini inginlah saja menindjau dengan sepatah kata keadaan negara kita, dalam perdjuangan mempertahankan kemerdekaan, dan keadaan tenaga dan organisasi rakjat dalam menjempurnakan tjita2 kita.

Dalam perdjuangan kita untuk menegakkan Negara Republik Indonesia tidak begitu lantjar, tetapi itu adalah si-fat dari pada tiap2 perdjuangan. Perdjuangan menghendaki korban, penderitaan dan kesabaran serta kejakinan akan kemenangan tjita2. Kita harus bersedia berdjuang untuk waktu jang lama sekali. Dan kita harus mendjaga supaja dasar perdjuangan kita tetap sutji, sebab kesutjian tjita2 itulah jang mendjadi kekuatan kita.

Tahun jang lalu ini menjatakan kepada kita, bahwa kemerdekaan kita bergantung kepada dua hal. Pertama kekuatan tenaga kita sendiri, dan kedua, simpati dunia internasional terhadap kita.

Simpati dunia internasional dimasa sekarang hanja sedikit bergantung kepada tjita2 besar seperti “hak tiap2 bangsa untuk menentukan nasibnja sendiri”. Tjita2 besar itu biasanja lahir dalam waktu penderitaan jang mahahebat, seperti perang dunia pertama dan kedua, waktu demokrasi Barat terantjam oleh desakan militairisme dan fascisme atau nazi. Tetapi, semangkin djauh masa perang itu kebelakang, semangkin kabur tjita2, semangkin besar tuntutan kepentingan sendiri2 dan perhitungan sendiri2 dan perhitungan jang didasarkan kepada pertentangan jang reeel. Itulah sebabnya maka UNO, suatu organisasi bangsa2 jang begitu besar, tidak mampu mengambil tindakan jang selajaknja dalam persengketaan kita dengan Belanda. Ceasefire diperintahkannja, tetapi Belanda leluasa sadja meneruskan tindakan militernja. Mengembangkan demokrasi dianjur2kannya, tetapi tindakan fascis jang dilakukan Belanda, dengan mendirikan pemerintah2 boneka sampai kedalam daerah de facto Republik Indonesia jang didudukinja, dibiarkan sadja oleh UNO.

Negeri2 besar demokrasi menjangka, bahwa mereka telah menghantjurkan nazi dalam perang dunia kedua ini, tetapi pokok2 dari pada fascisme itu mereka biarkan hidup kembali, jaitu pemerintah djadjahan. Belanda jang meringkuk lima tahun lamanja dibawah telapak kaki nazi Djerman, banjak mengetahui dari pada sistem nazi itu dan sekarang dipakainja terhadap daerah2 Indonesia jang didudukinja. Negara2 quasi-merdeka didirikan dengan suatu pemerintah boneka, jang hanja boleh melagukan lagu “his master voice”. Keganasan jang dilakukan oleh tentera Belanda didaerah2 jang didudukinja malahan melebihi lagi keganasan jg. Dilakukan Djepang dahulu di Indonesia selama masa pendudukannja. Pers Belanda sendiripun terperandjat melihat bukti2 jang njata itu.

Alasan jang dikemukakan oleh Belanda untuk menduduki Madura, jang katanja diminta oleh rakjat disana jang kekurangan makanan dan pakaian, adalah sama sekali metode fascis jang dilakukan dahulu oleh nazi-Djerman untuk menduduki Ustria. Kita tahu, bahwa Komisi Tiga Negara sendiri telah menjatakan kepalsuan alasan Belanda itu, setelahnja mereka sendiri menindjau ke Madura dan mendengar suara rakjat. Tetapi sikap apa jang diambil oleh UNO? Ada pula bajangan sekarang bahwa Belanda menjiapkan tenteranja, untuk menjerbu ke Djokja, apabila tuntutan2 mereka jang diluar dari segala kebenaran itu, tidak disetudjui. Apakah ini bedanja dengan perbuatan Hitler dahulu untuk mentjaplok Tjecho Slowakia ditahun 1939, sesudahnja diadakan perdjandjian Munchen jang mendjamin kemerdekaan negeri itu?

Dr. Van Mook mengadakan “dreamline”nja, garis impiannja jang tidak berdasar realitiet dan bertentangan pula dengan putusan Dewan Keamanan UNO. Kalau maksudnja itu tidak makbul, tentera Spoor bersedia menjerbu ke Jogja, katanja untuk menundukkan Republik jang “enkar”. Dalam pada itu Belanda telah berniat untuk mendirikan Negara Indonesia Serikat atas kuasanja sendiri jang menurut perdjandjian Linggardjati adalah usaha bersama antara pemerintah Nederland dengan pemerintah Republik Indonesia. Belanda selalu mengatakan akan mendjalankan perdjandjian Linggardjati, tetapi perbuatannja adalah bertentangan dengan huruf dan semangat perdjandjian Linggardjati itu. Trufnja jang penghabisan ialah, kalau Republik tidak mau tunduk, tenteranja akan dikerahkan serentak menduduki Jogja. Persis sistem dan perbuatan Nazi.

Tetapi kalau tentera Belanda sampai menduduki Jogja, maka akan bermulalah perang rakjat seluruh rakjat Indonesia – jang tidak berkeputusan terhadap Belanda sampai rubuhnya imperialis Belanda di Indonesia ini. Rakjat Indonesia sanggup berjuang berapa djuga lamanja untuk mempertahankan kemerdekaannja. Tentera Belanda jang beralat modern itu dapat menduduki kota2 dan melalui djalan2 besar, tetapi tanah Indonesia jang seluas itu tak akan terduduki olehnja. Dan setiap djengkal tanah Indonesia jang merdeka, lembah, hutan atau pegunungan, akan mendjadi pusat untuk perang gerilla bagi rakjat Indonesia jang lebih suka mati berkalang tanah dari pada hidup bertjermin bangkai. Dan setiap waktu Belanda tidak akan merasa aman lagi, dimana djuga ia berada. Pasukan gerilla Indonesia, dalam formasi atau sebagai orang seorang, akan tetap senantiasa mengganggu keamanannja.

Semuanja ini hendaklah dipikirkan oleh rakjat Belanda, sebelum pemerintahannja sempat mengadakan bentjana jang merugikan seluruh dunia, rugi dalam materieel dan tjita2. Rakjat Indonesia tidak bentji kepada rakjat Belanda, tetapi ia tjinta kepada kemerdekaannja. Bagaimanapun djuga dan apapun djuga jang terdjadi. Republik Indonesia terhadap rakjat Belanda tetap berpegang kepada manifest politiknja tanggal 1 November 1945, jang mendjadi dasar perhubungan baginja dengan bangsa2 didunia.

Perdjuangan Negara Republik Indonesia adalah perdjuangan keadilan, dan suatu waktu ia akan menang. Oleh karena itu rakjat Indonesia tidak akan djemu berdjuang, sampai tertjapai kemerdekaan tjita2nja.

Semuanja ini harus dipikirkan djuga oleh dunia internasional. Dunia akan rugi, ideeel dan materieel, apabila perang terus menerus terdjadi di Indonesia. Rugi ideeel, karena dengan itu dunia internasional menguburkan tjita2nja akan mendirikan dunia baru diatas keadilan, keamanan dan kemakmuran.

Rugi materieel, karena daerah Indonesia jang begitu kaja, berhenti menghasilkan bagi dunia. Sampai sekarang sadja telah ternjata, bahwa sejak aksi militer Belanda bermula, produksi mendjadi kurang. Belanda menduduki daerah2 jang terkenal sebagai lumbung padi, tetapi rakjat disana kekurangan makanan. Dan karena itu Belanda merasa terpaksa lagi untuk menduduki daerah baru untuk mendapat sumber bahan makanan. Tetapi semangkin banjak daerah jang subur didudukinja, semangkin kurang produksi, semangkin banjak penderitaan rakjat. Kebalikan dari pada dahulu, jang Republik sanggup menawarkan kelebihan bahan makanannja keluar negeri, sekarang telah terbajang bahwa Indonesia terpaksa meminta bantuan bahan makanan dari luar. Dalam pada itu, produksi barang lainnja tidak dapat berjalan dengan selamat.

Inilah akibatnja dari pada tindakan militer Belanda, jang harus dipertimbangkan benar2 oleh dunia internasional. Tidak menambah produktiviteit, melainkan mengurangkan produksi dan memusnahkan produktiviteit. Sebenarnja sama dengan akibat perang dimana2. Tetapi dapatkah ini dibiarkan dalam waktu jg disebut masa damai?

Tadi kukatakan, bahwa kemerdekaan kita bergantung sebagian kepada simpati dunia internasional kepada kita, sedangkan simpati itu tak dapat diharapkan akan berdasarkan tjita2 besar. Memang banjak negara jang ingin mereka itu berdasarkan kepada kejakinan bahwa – negeri jang merdeka lebih besar kemampuannja untuk menghasilkan bagi dunia dari pada negeri jang terdjadjah, Dalam beberapa hal negeri djadjahan mengadakan konkurensi, persaingan, jang tidak adil dalam perniagaan internasional, karena ditanah djadjahan upah buruh ditindis serendah2nja untuk memurahkan ongkos produksi. Akibat dari pada itu pula ialah bahwa tenaga pembeli rakjat djadjahan sangat sedikit, sehingga dunia internasional kehilangan pasar. Maupun dipandang dari sudut produksi maupun dari sudut konsumsi, kemerdekaan Indonesia, ne­geri jang begitu kaja hasilnja dan banjak penduduknja/ menguntungkan bagi dunia internasional ; Disinilah terutama letaknja simpasi dunia atas kemerdekaan kita. Simpasi dunia sebagian besar berdasar kepada ukuran jg objektief.

Apabila kita rakjat Indonesia dapat membuktikan bahwa kita sanggup menjamin produksi jang lantjar djalannja dan sanggup mengadakan pemerintahan jang teratur – a stable government – jang sanggup menegakkan hukum dan mendjaga keamanan hidup dan berusaha, – simpati dunia luaran itu akan bertambah kuat.

Itulah sebabnja, maka berkali2 kuutjapkan supaja rakjat kita tahu berdisiplin dan patuh kepada pemerintah. Dalam masa revolusi dan pergolakan sering2 rakjat jang patuh sekalipun keluar dari baris. Tetapi senantiasa mesti ada tindakan untuk memperbaiki diri sendiri, untuk mengadakan zelfcorrectie. Apalagi dalam perdjuangan kita seterusnja, untuk mempertahankan kemerdekaan itu, perlu ada disiplin, perlu ada persatuan jang erat dibawah pimpinan pemerintah, perlu ada perdjuangan dan usaha melihat kita mendjadi negara merdeka, tetapi keinginan jang teratur. Pendek kata organisasi negara dari masjarakat mestilah baik. Karena organisasi adalah pangkal dari pada kekuatan.

Tadi kukatakan, bahwa kemerdekaan kita selain dari bergantung kepada simpati dunia internasional, terutama bergantung kepada tenaga kita sendiri. Kekuatan tenaga sendiri itu bergantung sebagian pada kejakinan atas tjita2 kita dan sebagian atas organisasi negara dan masjarakat.

Bahwa kejakinan harus kuat, bahwa harus sanggup berkorban dan menderita, itu tak perlu dipaparkan lagi. Telah setiap hari dikobar2kan, dah setiap hari dibuktikan pula oleh pemuda jang berdjuang dan rakjat jang menderita.

Jang perlu ditindjau lebih dalam ialah keinsjafan tentang organisasi, karena organisasi adalah pangkal dari pada kekuatan. Kalau diperhatikan sedjak dari mulai Republik kita berdiri, organisasi kita, maupun negara atau masjarakat, ternjata bertambah baik. Pengalaman jang diperoleh menambah ketjerdasan dan ketjakapan bekerdja. Tetapi kemadjuan jang diperoleh sampai sekarang dalam organisasi negara dan masjarakat belum lagi sepesat jang kutjiptakan.

Sungguhpun begitu aku jakin, bahwa kemauan djiwa dan kekerasan hati untuk mengatasi segala kesukaran akan membawa kita lebih dekat kepada kesempurnaan.

Dalam menghadapi tahun jang akan datang ini, marilah kita perdalam keinsjafan dalam djiwa kita, bahwa kita harus menjempurnakan organisasi negara dan masjarakat dengan selekas2nja. Tudjuan ini akan lekas berhasil, apabila tiap2 warga-negara memenuhi kewadjibannja dengan bersungguh2. Pegawai negeri bekerdja dengan menumpahkan segala isi djiwanja, peradjurit berdjuang dengah tekad jang tak kundjung patah, dan warganegara lainnja memberikan bantuannja dengan sepenuh2 hati sampai kebatas kesanggupannja jang penghabisan. Negara kita adalah negara jang masih dalam perdjuangan, dan marilah kita tumpahkan segala minat kita kepada perdjuangan, perdjuangan jang akan menentukan mati hidup kita sebagai bangsa.

Tetapi organisasi negara, kita harus mentjapai pemerintahan jang lebih efektief. Pengalaman dimasa jang lalu didjadikan petundjuk untuk mengadakan perobahan dan perbaikan. Pemerintahan demokrasi djanganlah hendaknja djadi pemerintahan jang banjak memakan ongkos. Karena djika administrasi pemerintahan terlalu banjak memakan biaja negara, maka kuranglah belandja jang dapat dipergunakan untuk memadjukan pengadjaran, keselamatan dan kemakmuran rakjat. Demokrasi bermaksud supaja urusan mengatur hidup sendiri sebanjak2nja diserahkan kepada rakjat sendiri, dan bukan dikerdjakan oleh pegawai negeri. Semangkin rendah tingkat pemerintahan, semangkin sedikit ia harus memakai ongkos dan mempergunakan pegawai. Pemerintahan desa atau negeri atau warga seharusnja sedikit sekali memakai biaja, karena ia boleh dikatakan pemerihtahan dari pada rakjat sendiri dengan tiada memakai pegawai ketjuali dua tiga. Pembajaran wang duduk pada anggota dewan perwakilannja tak perlu diadakan, karena anggota itu tidak bersidang sepandjang waktu, hanja beberapa kali sadja sebulan. Lingkungan desa pun tak luas, sehingga perdjalanan anggota kesidang tidak perlu dengan kenderaan jang dibajar.

Tentang organisasi masjarakat, disini besar tanggung djawab partai2. Partai2 hendaklah memberi djiwa kepada rakjat, menuntun rakjat dalam perdjuangan kita menentang agressie Belanda. Betapa djuga besarnja perbedaan paham dan ideologi antara partai jang satu dengan jang lain, lebih banjak dan lebih besar lagi persamaan maksud dan tudjuan antara segala partai itu, jang semuanja itu boleh dan musti mendjadi ikatan persatuan dalam membela tjita2 negara. Kerdjasama antara partai2 akan memperkuat organisasi masjarakat. Djuga partai2 itu sendiri harus mengadakan perbaikan didalamnja, supaja ia berupa suatu badan jang hidup dan tumbuh.

Dimasa jang baru lalu ini ada partai atau perkumpulan jang meminta biaja kepada Pemerintah. Inilah ada suatu dasar jang salah, jang bertentangan dengah tjita2 demokrasi. Sebab, djika Pemerintah harus membiaja partai2 maka lebih baik pemerintah sendiri mengadakan suatu Partai Negara, jang satu itu sadja dalam masjarakat, dengan Partai Negara itu kita menjimpang dari garis demokrasi.

Partai mesti hidup dari ijuran anggotanja, dan ijuran itu pulalah jang mendjadi tali ikatan semangat antara partai dan anggota.

Mudah2an dalam tahun 1948 ini kita sanggup menjempurnakan organisasi negara dan maajarakat kita, – se­hingga seluruh Republik mendjadi suatu kesatuan organisasi jang berdjuang, dengan api semangat jang tak kunjung pada.

Marilah saja kuntji pidato ini dengah sembojan kita, jang tetap mendjadi pedoman perdjuangan kita “Sekali merdeka, tetap merdeka”

Advertisements
This entry was posted in pidato indonesia, Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Pidato Wakil Presiden Hatta ditjorong Radio Republik Indonesia Bukit Tinggi

  1. nusantaraku says:

    Ini merupakan cuplikan pidato Bung Hatta yang pertama kali yang baca.
    Susunan bahasa dan konten yang disampaikan sangat bagus.
    Sangat wajar, jika Bung Hatta terpilih sebagai Proklamator mewakili rakyat Indonesia.
    Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s