Muhammad Yamin: Saya tidak Menerima


TOKOH ini memang istimewa. Teguh dalam prinsip sampai memberi kesan ngotot dan keras kepala. Misalnya, ketika dr KRT Radjiman Wediodiningrat, Ketua BPUPKI, menunjuknya sebagai anggota panitia keuangan, saat sidang tanggal 11 Juli 1945 akan ditutup, dia bilang, “Saya tidak menerima.”

Alasannya jelas. Dia merasa tak punya pengalaman dan pengetahuan dengan uang. Dia guru besar bidang hukum. Beberapa jam sebelumnya, masih dalam sidang 11 Juli, dia menguraikan dasar-dasar hukum negara. Uraian itu adalah kelanjutan pidatonya tanggal 29 Mei 1945, di mana Yamin tampil sebagai pembicara dalam sidang BPUPKI yang pertama. Soal ketatanegaraan dia terlihat sangat fasih dan siap, sama seperti kefasihan Supomo dan Soekarno yang kemudian memperoleh kesempatan berbicara.

Walaupun Soekarno sudah meminta langsung agar Yamin dimasukkan dalam keanggotaan panitia kecil, walaupun sebagian besar anggota panitia ini meminta Yamin masuk, keputusan Radjiman tak bisa diubah. “Sudah selesai. Sebetulnya saya harus membebaskan lagi tuan Yamin, tetapi itu tidak bisa,” ujar Radjiman, yang kemudian dikomentari Yamin, “Saya tidak menerima.”

Dalam soal ini, belakangan ada yang menafsirkan, kegigihan Yamin tak mengalahkan kepekaan Radjiman. Sebagai ketua, Radjiman menangkap suasana. Kalau Yamin ditempatkan dalam satu sesi dengan Soekarno dan Supomo, pasti terjadi perdebatan seru. Dan tidak mustahil, pendapat-pendapat Yamin akan menang, atau sidang panitia kecil yang dipimpin Soekarno itu berlarut-larut, tidak segera menghasilkan sebuah rancangan UU Dasar.

Keteguhan Yamin memang teruji. Ketika UUD disahkan, ketika semua anggota berdiri menyatakan setuju, Yamin tetap duduk. Sampai ketua Radjiman menyindir, “saya lihat tuan Yamin belum berdiri.” Yamin toh tetap duduk di tempat.

***

MENURUT Sutrisno Kutoyo, penulis buku Prof. H. Muhammad Yamin SH (Depdikbud, 1981, 130 halaman), Yamin adalah seorang pujangga, ahli pikir, sastrawan, ahli sejarah, ahli politik, cendekiawan dan budayawan. Seorang yang teguh dalam pendirian, dan selalu yakin akan kebenaran pendiriannya. Seluruh kehidupannya dia curahkan untuk tercapainya kejayaan Indonesia.

Penilaian Sutrisno benar. Sebagai pengarang buku, Yamin termasuk produktif, terserak dalam berbagai bidang, mulai dari kebudayaan, biografi, puisi hingga catatan-catatan rapat termasuk rapat-rapat sidang BPUPKI yang kemudian menjadikan pelengkap edisi ketiga buku Risalah Sidang BPUPKI terbitan Sekretariat Negara 1995.

Bahkan ada yang menggolongkan Yamin sebagai perintis Pujangga Baru bersama Rustam Effendi, Sanusi Pane sebelum akhirnya diteruskan oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Amir Hamzah. Karena itu Abu Hanifah menempatkan secara khusus posisi kepenyairan Yamin berdampingan dengan Rustam Effendi dan Sanusi Pane. Yamin pula yang mengoreksi tanggal wafat Pangeran Diponegoro bukan 8 Februari 1855 tetapi 8 Januari 1855.

Keterlibatannya dalam perjuangan kepemudaan dimulai dari kesertaannya dalam Jong Soematranen Bond (Pemuda Sumatra) bersama Drs Mohammad Hatta. Cita-citanya tentang kebangsaan Indonesia, berkembang dari lingkup daerah menjadi kebangsaan (seluruh) Indonesia, terlihat pada konsep Resolusi Kongres Pemuda yang kemudian kita kenal sebagai Sumpah Pemuda. Dialah konseptor draft resolusi. Usul disampaikan kepada Sugondo, di sela Mr Soenario menyampaikan ceramah tentang persatuan-kesatuan pemuda.

Sepadan dengan cita-cita kejayaan Indonesia, usulannya tentang wilayah negara berkesan “ekspansionistis”. Dalam sidang BPUPKI tanggal 10 Juli, dia ungkapkan bahwa tanah tumpah darah Indonesia adalah daerah kepulauan delapan dengan pulau-pulau sekelilingnya, yaitu Sumatera, Melayu, Borneo, Jawa, Sulawesi, Sunda Kecil, Maluku, Papua bersama semua pulau kecil sekitarnya kecuali pulau-pulau sekitar Maluku. Keinginan itu, katanya, bukan keinginan sekarang melainkan jauh beribu-ribu tahun sebelumnya, melewati Gajah Mada hingga sekarang. Oleh anggota BPUPKI, Soetardjo, Syonanto (Singapura) pun disusulkan masuk Indonesia.

Pendiriannya tentang batas wilayah begitu meyakinkan, sama kuatnya dengan dua pendirian lainnya. Ketua Radjiman lantas mengadakan setem (pemungutan suara) pada sidang tanggal 11 Juli.

Mengingatkan kejayaan masa lampau dengan bintangnya Sriwijaya dan Majapahit, Yamin ingin menegaskan bahwa dalam menyusun batas wilayah dan undang-undang dasar, mestilah kebesaran itu memberikan inspirasi. Katanya, “orang Timur pulang kepada kebudayaan Timur.” Tambahnya, sejak Majapahit runtuh pada abad ke-16, di Indonesia terdapat sekitar 300 negara kecil. Tetapi karena hanya berupa negara pusaka, mereka tidak perlu dimasukkan dalam wilayah negara Indonesia Merdeka.

***

SETELAH Proklamasi Kemerdekaan, di tengah berkembangnya berbagai aliran politik, di mana posisi Mohammad Yamin? Dari dua aliran kuat sosialisme, antara Syahrir dan Tan Malaka, Yamin lebih condong pada Tan Malaka − bahkan yang terakhir ini termasuk tokoh yang dikagumi seperti ditulisnya dalam biografi Tan Malaka. Dalam badan Persatuan Perjuangan sebagai lembaga oposisi Kabinet Syahrir yang dimotori Tan Malaka, Yamin duduk sebagai salah satu pimpinan. Badan ini berdiri awal Januari 1946 menentang siasat berunding dengan Belanda dalam mempertahankan kemerdekaan. Mereka yakin dengan mehghimpun seluruh kekuatan rakyat, kemerdekaan bisa dipertahankan.

Seperti ditulis Sutrisno Kutoyo, setelah Syahrir mundur dari kabinet, kemudian Presiden Soekarno meminta membentuk Kabinet Syahrir II, oposisi bukannya surut. Syahrir diculik yang digerakkan oleh Tan Malaka, tapi menurut Tan Malaka (Dari Penjara ke Penjara) justru digerakkan oleh Yamin. Syahrir atas perintah Soekarno dikembalikan ke Yogyakarta. Terbentuklah Kabinet Syahrir III.

Di mana Yamin? Bersama sejumlah tawanan politik yang dia lepaskan dari penjara Wirogunan Yogyakarta, ia mendatangi Presiden Soekarno, menyampaikan petisi agar Kabinet Syahrir dibubarkan dan diganti kabinet baru.

Tindakan ini dianggap makar. Yamin ditahan. Peristiwa ini dikenal sebagai Peristiwa 3 Juli 1946. Selama dua tahun ditahan dengan tempat yang berpindah-pindah, dijatuhi hukuman empat tahun dalam sidang pengadilan tanggal 27 Mei 1948, tetapi pada tanggal 17 Agustus 1948 mendapat grasi. Masuk pedalaman daerah gerilya, kembali ke Yogyakarta dan pada tahun 1949 diangkat sebagai penasihat Delegasi RI ke KMB yang dipimpin Moh. Hatta. Tahun 1950 kembali ke Indonesia, menjadi anggota DPR yang berpenampilan bijak, oratoris, brilyan serupa ketika duduk dalam Volksraad tahun 1939-1943.

Tahun 1951 Yamin diangkat sebagai Menteri Kehakiman dalam Kabinet Sukiman-Suwiryo hanya dua bulan, karena dicopot atas kebijaksanannya membebaskan Chaerul Saleh yang ditahan karena, sebagai pemimpin pemuda ia tidak setuju dengan hasil-hasil KMB. Ditawari sebagai dubes, tetapi menolak dan perhatiannya dicurahkan pada kegiatan menulis, di antaranya sebagai Pimpinan Redaksi SK Mimbar Indonesia bersama antara lain Jusuf Wibisono, Pangeran Noor, Darsyah Rahman dan Adi Negoro.

Bulan Juli 1953-Juli 1955, menjabat Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo I. Tinggalannya adalah berdirinya Perguruan Tinggi Pendidikan Guru, embrio dari IKIP. la mendirikan berbagai universitas di berbagai kota karena berpandangan, dengan adanya sebuah universitas negeri di setiap propinsi, kegiatan intelektual pun tersebar di daerah bukan hanya di Jawa.

Bulan Juli 1958 Yamin diangkat sebagai Menteri Sosial, lantas Menteri Inti Urusan Khusus, dan pada Pebruari 1960 sebagai Menteri dalam Kabinet Inti (Ketua Dewan Perancang). Jabatan terakhirnya (1962), seperti ditulis Sutrisno Kutoyo, adalah Wakil Menteri Pertama Urusan Khusus/Menpen.

Pada tanggal 17 Oktober 1962, salah satu Bapak Bangsa kelahiran Sawanlunto tanggal 23 Agustus 1903 itu meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Pudingsawah Tapian, dekat Talawi, sesuai permintaan almarhum agar dimakamkan berdampingan dengan ayahnya, Usman Gelar Bagindo Khatib. Meninggalkan seorang putra, Rahadiyan dari pernikahannya dengan RA Siti Sundari dari Semarang.

***

SOSOK Yamin memang penuh kontroversi. Dalam rubrik Tokoh, (Prisma, 3 Maret 1982), Bakri Siregar mencatat adanya sejumlah sorotan kecurigaan setelah 20 tahun Yamin meninggal. Sorotan itu menyangkut wataknya yang sulit, tidak bisa supel dalam pergaulan.

Masih dari catatan Bakri Siregar disebutkan bahwa Prof. Harsya W. Bachtiar, saudara dekat Yamin, berkomentar bahwa Yamin itu pandai. Dan karena kepandaiannya, dia cenderung meremehkan orang lain.

Apa pun kontroversinya, Yamin tetaplah sosok yang menarik, yang berjasa dan terlibat dalam sejarah perjuangan bangsa ini merebut kemerdekaan. Keteguhannya menolak penunjukan KRT Radjiman, menunjukkan kekukuhan bertahan dalani prinsip. Itupun sebuah keunikan, barangkali juga keutamaan.

(Penulis: St. Sularto)

Dari Harian Kompas, Sabtu, 8 Juli 1995

Advertisements
This entry was posted in Indonesia, m yamin, pahlawan, pejuang kemerdekaan, politik, sejarah indonesia. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s