Puisi Chairil Anwar (tidak berjudul)


Biar malam kini lalu,
tjinta, tapi mimpi masih ganggu
jang bawa kita bersama sekamar
tinggi seperti gua dan sebisu
stasion achir jang dingin
dimalam itu banjak berdjedjer siur katil-katil
Kita terbaring dalem sebuah
jang paling djauh terpentjil
Bisikan kita tidak patju waktu
kita bertjiuman, aku gembira
atas segala tingkahmu,
sungguhpun jang lain disisiku
dengan mata berisi dendam
dan tangan lesu djatuh
melihat dari randjang.
Apakah dosa, apakah salah
ketjemasan berlimpah sesal
jang djadikan aku korban
kau lantas lakukan dengan tidak sangsi
apa jang tidak bakal aku setudju?
dengan lembut kau tjeritakan
kau sudah terima orang lain
dan penuh sedih merasa
aku orang ketiga dan lantas djalan.

Sadjak ini adalah salah satu dari sadjak2 peninggalan Chairil Anwar jang belum pernah diumumkan, dari koleksi S. Suharto. Diketemukan bersama-sama dengau 11 sadjak lain. 1 pasang sepatu, 1 kemedja, ½ kg gula, rekening dokter jang belum dibajar dan wang R 1.—
Red. MI.

Dari Majalah Mimbar Indonesia

Advertisements
This entry was posted in puisi and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s