Pidato Presiden Soekarno tgl. 1 Djanuari 1948 ditjorong Radio Republik Indonesia Djokjakarta.

Saudara2 sekalian diseluruh Indonesia.

Dan semua pendengar jg mendengar pedato saja ini.

Pada hari ini masuklah Republik Indonesia dalam tahun kalender ke 4-nja.

Saja mengutjapkan banjak2 terima kasih kepada semua fihak jang telah rnenjampaikan utjapan selamat kepada Republik Indonesia dan kepada persoon saja sendiri sebagai Presiden dan saja mendo’a pula kepada Allah Subhanahu Wataala, agar saudara2 dan mereka itu dalam tahun 1948 dan selandjutnja senantiasa dalam pemeliharaan Tuhan sebaik-baiknja. Tahun 1947 sudah dibelakang kita. Alangkah beratnja tahun 1947 itu, bagi Republik dan bagi banjak orang didalam Republik.

Didalamtahun 1947 itu petjahlah peperangan jang dihantarkan kepada tubuh Republik, peperangan jang dalam sifatnja, bukah aksi polisionil, (djuga menurut fihak luar negeri), tetapi adalah suatu peperangan kolonial. Dalam tahum 1947 itu bertambahlah penderitaan Rakjat kita sebagai akibat peperangan itu, banjakmanusia jang mati, perempuan djadi djanda, anak2 djadi jatim piatu ; rumah2 musnah terbakar; banjak orang jang tadinja dalam keamanan dan kebahagiaan, sekarang hidup dalam pengungsian, karena tetap tjinta kepada kemerdekaan.

Kepada semua orang2 ini saja sampaikan salam hormat saja.

Assalamu’alaikum, saudara2ku.

Moga2 Tuhan senantiasa serta dengan saudara2, moga2 tidak akan tersia2 pengorbanan saudara2 oleh Tuhan.

Apakah bedanja aksi polisioneel Belanda itu pada hakekatnja dengan peperangan Atjeh, Bali, Lombok; Bone dan lain2.

Pada hakekatnja tidak ada, dan malahan sebagai peperangan kolonial terdulu itu, kita dalam peperangan sekarang inipun melihat, bahwa orang2 Indonesia-lah jang dipakai untuk memerangi bangsa Indonesia.

Tetapi dalam alamnja adalah perbedaan jang besar sekali antara peperangan kolonial dulu itu dengan peperangan kolonial sekarang.

Peperangan di Atjeh, Bone, Bali, Lombok dll daerah itu ; dilakukan atas rakjat jg belum ada kesedaran nasional, atas rakjat jang sudah barang tentu biarpun begitu, tidak suka didjadjah; tetapi peperangan kolonial sekarang adalah peperangan atas rakjat jang sudah ada kesedaran nasionalnja. Djiwa natie, djiwa bangsa jg bersemajam dalam kalbunja; jiwa kemerdekaan berkobar2 dalam tubuhnja. Rakjat Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannja dan telah mengetjap kebahagiaan kemerdekaan 2 tahun, dan tetap mau mengetjap kemerdekaan itu seterusnja.

Alam internasionalpun lain dari pada jang dulu. Dulu politik rakjat bukan politik dunia, ekonominja bukan ekonomi dunia.

Dulu Atjeh dapat ditundukkan, Bone dapat dihantjurkan, Bali, Lombok dapat dikalahkan dan dunia tidak mau tahu menahu dengan ini, tetapi sekarang dunia tahun 1947 bukan dunia tahun 1900, dan malahan bukan dunia 10 tahun jang lalu. Dunia tahun 1947 adalah dunia jang menerangi dan mengalami perang dunia ke II jang baru berachir; semenjak itu kebahagiaan, faham demokrasi, keadilan dan kemanusiaan didengung2kan. Sembojan2 itu tidak dilupakan.

Karena alam jang berlain antara dunia dulu dan sekarang itulah maka perang kolonial terhambat djalannja.

Segenap rakjat Republik, 60 djuta itu, laki2 perempuan; tua muda; telah bersatu dalam “peoples’s defence”. Anasir2 progressief sedunia telah memprotes perang kolonial.

Dewan Keamanan tjampur tangan. Kini Panitia Komisi Tiga Negara berada di Indonesia untuk mentjari penjelesaian Indonesia dan Belanda.

Sedari semula kita sambut Panitia itu dengan gembira, sebagai duta Peri Kemanusiaan.

Segala usul2 Panitia Komisi 3 Negara, jang menudju penjelesaian pertikaian pada pokoknja kita terima. Segala penjelidikannja kita permudah, sebab kita bangsa Indonesia, memang tjinta damai; kita hanja mengangkat sendjata kalau kita diserang.

Tjoba buka buku sedjarah Indonesia, bahkan sedjarah Asia, Mataram I, Madjapahit; Mataram II, tuan akan lihat bahwa kita tidak pernah menjerang, djika kita tidak diserang dulu. Semua peperangan kita bersifat defensief dan diatas tanah air kita sendiri.

Selama air sungai masih mengalir kelaut,
Selamat air laut masih asin,
Kita tetap tjinta akan damai
.

Sedari semua kita menerangkan, bahwa soal Indonesia dan Belanda bukan satu soal dalam negeri, bukan soal Indonesia sadja, atau soal Belanda sadja, tetapi adalah soal dunia, soal internasional.

Panitia Komisi 3 Negara diutus kemari.

Kita wadjib menerimanja dengan baik, sajang Pan­itia itu tidak diberi kekuasaanarbitor.

Alangkah djahatnja orang2 jang hendak membinasakan Republik, mengatakan kita kaum isolasionist, kita bukanisolasionist, tetapi kita di-isoleerkan.

Nasionalisme kita sedar, bahwa ia hidup dalam suatu “historisch paradox”. Nasionalisme kita mentjoba menghantjurkan ekonomi kolonial, tetapi bukan hendak menggantinja dengan ekonomi nasional. Kita dengan “bewust” mentjari hubungan dengan dunia. Inilah sebab maka kita menolak usul untuk menganggap urusan Indonesia sebagai soal dalam pagar, sebagai soal dalam negeri.

Indonesia mengerti, bahwa diatidak akan subur dengan menjandarkan diri kepada susunan nasionalisme sadja, ia mengerti; bahwa iamesti bersandar kepada internasional.

Oleh sebab itu, saja minta kepada dunia, supaja tetap memperhatikan soal Indonesia, tetap membantu kami, bantulah tetap; supaja segala soal Indonesia dan Belanda diselesaikan dan kemerdekaan Indonesia dipelihara, karena hanja dalam kemerdekaan, kita dapat menjumbangkan kekajaan Indonesia dengan sebaik2nja kepada dunja. Indonesia ingin turut membangun dunia baru. Sungguh kita tjinta damai, kita jakin bahwa semua pende-ngarpun tjinta damai, tetapi jakinlah, bahwa tidak mungkin ada perdamaian lama, apalagi jang kekal; kalau tidak semua rakjat didunia merdeka, tidak mungkin perdamaian lama, kalau dunia separoh merdeka separoh lagi budak, seperti kata Lincoln. Tidak mungkin perdamaian lama, kalan sebagian dunia mewah hidupnja, jang sebagian lagi hidup dalam kepapaan.

Kita bangsa Indonesia menerima baik duta2 Komisi 3 Negara, bersedia dijakini oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa itu, sebaliknja semua orang mesti mengerti; bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa pun tegak dimuka sedjarahnja. Apakah Perserikatan Bangsa-Bangsa benar2 menghendaki kemerdekaan untuk seluruh Bangsa-Bangsa, besar atau ketjil?

Sudah sampai kita kepada tijd-nja untuk mendjawab: “Bolehkah bangsa satu, mendjadjah jang lain, kalu jang lainitu tidak setudju?”

Saudara2 bangsa Indonesia, dari daerah Republik atau bukan dari daerah Republik, dimana sadja saudara berada.

Tahun 1947 sudah dibelakang kita, tahun 1948 mengadjak kita berdjalan terus. Karena sedjarah berjalan terus.

Saja tidak mengetahui apakah tahun 1948 ini akan berat atau tidak, memang hanja Tuhan sadja jang dapat mengetahui jang belum terdjadi. Permohonan kita kepada Tuhan agar dapatlah terlaksanakan penjelesaian soal Indonesia Belanda dengan damai.

Tetapi ada sjarat2 mutlak jang tidak terikat kepada tahun 1947, tahun 1948, tahun 1949 atau 1950 jang harus kita penuhi, agar dapat kita tjapai kemerdekaan jang sesentosanja. Sjarat2 ini mengenai diri kita sendiri, lahir dan bathin.

Penuhilah sjarat2 ini, Insja Allah, kemenangan pasti akan dapat.

Lahir dan bathin kita semua kuat, sudahkah bathin kita semua sehat ?

Masihkah kita tertarik kepada materieel dari pendjadjahan ?

Beberapa orang bangsa kita sendiri menentang Republik, mereka dengan terang2an mengatakan perbuatan mereka contra revolusi. Memang perbuatan kita revolusi, dan jang menentang kita contra-revolusionair.

Revolution rejects yesterday, dan siapa jang hendak mengembalikan zaman kemaren itu, ialah contra-revolusionair.

Saudara2 sedjumlah 70 miljun.

Marilah kita perkuat bathin kita dan marilah kita bermohon kepada Tuhan supaja bathin kita djangan lemas.

Sudahkah bathin kita bersatu? Djanganlah kita termasuk kedalam perangkap “Divide et Impera”.

Kita adalah satu. Tjita2 kita adalah satu.

Ekonomi kita ada jang buruk, ada jang baik, ada jang sedang.

Ethnologie kita ada jang Sunda, ada jang Djawa, ada jang Makassar dan lain2.

Religie kita ada jang Islam, ada jang Kristen.

Tetapi “Djagalah, politik kita adalah satu.” Bahgsa Indonesia mempunjai tjita2 satu, djangan kita bertjerai berai karena soal unitaristis.

Bangsa Indonesia boleh mempunjai daerah otonomie, tetapi kita tetap bersatu, peraturan2 tentang otonomie sudah lama ada, dan sedikit hari lagi akan diumumkan. Memang otonomie disetudjui, karena negara Indonesia adalah negara demokrasi, negara kedaulatan rakjat.

Djasmani kita boleh terpisah karena garis2 demarkasi, karena lautan, tetapi bathin kita semakin dahaga ke­pada persatuan.

Perdjuangan saudara2 didaerah pendudukan, didaerah seberang, adalah perdjuangan kita djuga dan tanggung djawab kita semua.

Demikian pesan2 saja mengenai bathin.

Djuga mengenai lahir saja berpesan : Sempurnakanlah organisasi negara, pertahanan, ekonomi, pendidikan, kepolisian; administrasi dan lain2.

Marilah kita dinamis, marilah kita giat, marilah kita mandi keringat, marilah kita kerta. Karena bangsa jang tidak begitu, akan tenggelam. Ingatlah, Modjopahit tenggelam, karena kehilangan Kertanja.

Tahun 1947 sudah lampau, dan tahun 1948 kita masuki. Soal2 1001 matjam minta dipetjahkan, kadang2 kita bingung, tetapi djanganlah menanja: “Inikah kemerdekaan? Tidakkah kemerdekaan menjelesaikan soal?

Orang2 jang menanja seperti ini, adalah orang jang putus asa.

KEMERDEKAAN BUKAN MENJELESAIKAN SOAL, TETAPI MENIMBULKAN SOAL2.

Demikianlah utjapan saja pada tahun baru ini, pada semua bangsa diluar pagar, dan djuga kepada bangsa Belanda, saja harap dalam tahun 1948 akan dapat berdjabatan tangan.

Kepada bangsa Asing saja menjampaikan salam, bekerdja samalah dengan bangsa Indonesia dalam suasana jang sebaik2nja.

Marilah kita memasuki tahun 1948 ini dengan bermohon kepada Tuhan Subhanahu Wataala:

HIDUPLAH REPUBLIK INDONESIA,
HIDUPLAH DEMOKRASI,
HIDUPLAH PERSATUAN BANGSA-BANGSA,
HIDUPLAH PERSAUDARAAN DUNIA.
MERDEKA, SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA

(Penulisan sesuai dengan tata penulisan ejaan bahasa Indonesia waktu itu)

Posted in Uncategorized | Tagged | 4 Comments